Filmlawas – Zimbabwe sekarang ini sedang jadi sorotan dunia sebab usaha pengambil alihan kekuasaan oleh militer. Presiden Robert Mugabe yang sudah pimpin negara itu sepanjang hampir empat dekade, sekarang ini diberitakan masih ada dibawah tahanan rumah. Kritis politik ini jadi memperburuk kondisi ekonomi di negara itu.

Lebih dari 60 % masyarakat di Zimbabwe sekarang ini hidup dibawah garis kemiskinan. Keadaan itu ironi, menhingat di waktu dulu, Zimbabwe sudah pernah jadi “keranjang roti” di Afrika. Tetapi keadaan kembali sebab negara itu alami kekeliruan manajemen industri, kekurangan pangan, mata uang yang ambruk serta korupsi yang menjalar.
Pada awal tahun 1980an, Mugabe dipilih jadi perdana mentri pertama dari satu negara Zimbabwe yang baru merdeka pada tahun 1980 sesudah sekian tahun dipenjara sebab sikap politiknya.

Dia dipuji oleh beberapa orang jadi figur bergaya Nelson Mandela yang akan pimpin negara ini ikuti dekade pemerintahan Inggris serta yang didominasi kulit putih.
“Ia tetap mempunyai sikap populis, yang bermakna ia ingin kerja untuk kebutuhan terbaik tetapi tidak harus ekonomi,” kata Funmi Akinluyi, manager portofolio yang berinvestasi di pasar Afrika serta tepian di Silk Invest.
Mugabe mendapatkan pernyataan internasional atas ide pendidikan serta kesehatan, serta negara itu terus tingkatkan export produk manufaktur serta pertaniannya. Secara cepat, Zimbabwe populer dengan produksi tembakaunya, serta usaha memberi dukungan pertanian selama tahun.
Selanjutnya di periode 1990an, momen politik Mugabe mulai menghilang. Beberapa kritikus menuduhnya lakukan kebrutalan serta penyuapan untuk menjaga kekuasaannya. Dia dengan berkelanjutan menyanggah lakukan kekeliruan itu.
Di periode ini, mulai berlangsung kekeliruan manajemen yang dikerjakan oleh Mugabe pada bidang pertanian. Hal itu jadi titik balik yang berperan pada musibah ekonomi. Saat itu, Mugabe memutuskan bahawa arah reformasi pertanahan pemerintah ialah akhiri beberapa puluh tahun pemilikan pertanian oleh tuan tanah berkulit putih, yang banyak dilihat jadi ketidakadilan kolonial.
“Undang-undang Pembebasan Tempat tahun 1992” itu sangat mungkin Mugabe untuk memaksakan pemilik tanah menyerahkan propertinya serta mendistribusikannya kembali. Pada tahun 1993, Mugabe meneror akan mengusir pemilik tanah kulit putih yang keberatan dengan ketentuan itu.
Di dekade seterusnya, yaitu tahun 2000an, kampanye itu terus diteruskan Mugabe. Dia memaksakan 4.000 petani kulit putih untuk menyerahkan tanah mereka. Tetapi dia tidak memperispkan gagasan secara baik tentang apa yang akan dikerjakan paca penyerahan paksa tanah itu. Mengakibatkan, hasil pertanian Zimbabwe turun mencolok dalam sekejap.
“Ada kekurangan makanan selekasnya,” ingat Akinluyi.
“Beberapa orang kelaparan,” sambungnya.
Cara barusan dibarengi oleh dua tahun panen yang jelek serta kekeringan kronis yang terus bersambung. Hal itu mengakibatkan kelaparan terjelek di negara itu dalam 60 tahun paling akhir.
Ditengah-tengah kekurangan beberapa barang keperluan basic, bank sentra menggenjot mesin bikin uangnya untuk membiayai import. Hasilnya ialah inflasi yang menjalar.
Pada pucuk kritis, harga bahan inti naik jadi 2x lipat tiap 24 jam. Ekonom Cato Institute memprediksi inflasi bulanan sampai 7,9 miliar % pada tahun 2008.

Diluar itu, angka pengangguran melompat, service publik ambruk serta ekonomi berkurang 18 % di tahun 2008.
Zimbabwe juga tinggalkan mata uangnya pada tahun 2009, hingga transaksi dikerjakan dalam dolar AS, rand Afrika Selatan serta tujuh mata uang yang lain.
Selanjutnya diawalnya tahun 2010an, Mugabe menyikapi sangsi internasional dengan meneror untuk merampas semua investasi punya Barat di negara itu. Intimidasi itu membuat calon investor menjauh.
Pemerintahan Mugabe selanjutnya coba mengubah konsentrasi ekonomi dari peternakan ke pertambangan. Dia memerintah semua penambang berlian untuk hentikan kegiatan serta tinggalkan sarana mereka. Gagasannya ialah supaya entitas yang diurus negara menggantikan operasi. Tetapi hal itu pun tidak berjalan sesuai dengan gagasan.
Zimbabwe makin alami kemerosotan ekonomi. Kekeringan kronis yang berlangsung makin jadi memperburuk kondisi ekonomi negara.
Akhir tahun kemarin, negara itu mulai cetak apa yang disebutkan obligasi catatan, sejumlah semasing 1 dolar AS.
Akinluyi menjelaskan kondisi sekarang ini benar-benar memprihatinkan sebab Zimbabwe mempunyai sangat banyak kekuatan.
demikianlah sejarah tentang negara zimbabwe, jika ada yang kurang boleh di isi di kolom komentar trims.